GT community touring di pegunungan

Selasa

akper GERONTIK XIII

LAPORAN PENDAHULUAN

TEORI TENTANG PROSES PENUAAN

1. Pengertian lanjut Usia

Proses menua merupakan suatu yang fisiologis, yang akan dialami oleh setiap orang. Batasan orang dikatakan lanjut usia berdasarkan UU No 13 tahun 1998 adalah 60 tahun.

2. Teori tentang Proses menua

2.1 Teori Biologik

  1. Teori Genetik dan Mutasi

Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul /DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi

  1. Pemakaian dan Rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah

  1. Autoimune

Pada proses metabolisme tubuh , suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Sad jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan mati.

  1. teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai.

  1. Teori radikal bebas

Tidak stabilnya redikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan bahan organik seperti karbohidrat dan protein . radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

2.2. Teori Sosial

a. Teori ktifitas

Lanjut usuia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial

b. Teori Pembebasan

Dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kwalitas maupun kwantitas. Sehingga terjadi kehilangan ganda yakni :

a) Kehilangan peran

b) Hambatan kontrol sosial

c) Berkurangnya komitmen

c. Teori Kesinambungan

Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia. Dengan demikian pengalaman hidup seseorang pada usatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ini menjadi lansia.

Pokok-pokok dari teori kesinambungan adalah :

a) lansia tak disarankan untuk melepaskan peran atau harus aktif dalam proses penuaan, akan tetapi didasarkan pada pengalamannya di masa lalu, dipilih peran apa yang harus dipertahankan atau dihilangkan

b) Peran lansia yang hilang tak perlu diganti

c) Lansia dimungkinkan untuk memilih berbagai cara adaptasi

2.3 Teori Psikologi

a. Teori Kebutuhan manusia mneurut Hirarki Maslow

Menurut teori ini, setiap individu memiliki hirarki dari dalam diri, kebutuhan yang memotivasi seluruh perilaku manusia (Maslow 11111954). Kebutuhan ini memiliki urutan prioritas yang berbeda. Ketika kebutuhan dasar manusia sidah terpenuhi, mereka berusaha menemukannya pada tingkat selanjutnya sampai urutan yang paling tinggi dari kebutuhan tersebut tercapai.

b. Teori individual jung

Carl Jung (1960) Menyusun sebuah terori perkembangan kepribadian dari seluruh fase kehidupan yaitu mulai dari masa kanak-kanak , masa muda dan masa dewasa muda, usia pertengahan sampai lansia. Kepribadian individu terdiri dari Ego, ketidaksadaran sesorang dan ketidaksadaran bersama. Menurut teori ini kepribadian digambarkan terhadap dunia luar atau ke arah subyektif. Pengalaman-pengalaman dari dalam diri (introvert). Keseimbangan antara kekuatan ini dapat dilihat pada setiap individu, dan merupakan hal yang paling penting bagi kesehatan mental

3. Perubahan Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

3.1. Perubahan fisik

a. Sel : jumlahnya lebih sedikit tetapi ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra dan extra seluler

b. Persarafan : cepatnya menurun hubungan persarapan, lambat dalam respon waktu untuk meraksi, mengecilnya saraf panca indra sistem pendengaran, presbiakusis, atrofi membran timpani, terjadinya pengumpulan serum karena meningkatnya keratin

c. Sistem penglihatan : spnkter pupil timbul sklerosis dan hlangnya respon terhadap sinaps, kornea lebih berbentuk speris, lensa keruh, meningkatny ambang pengamatan sinar, hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang pandang.

d. Sistem Kardivaskuler. : katup jantung menebal dan menjadi kaku , kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % setiap tahun setelah berumur 20 tahun sehingga menyebabkanmenurunnya kontraksi dan volume, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan darah meningg.

e. Sistem respirasi : otot-otot pernafasan menjadi kaku sehingga menyebabkan menurunnya aktifitas silia. Paru kehilangan elastisitasnya sehingga kapasitas residu meingkat, nafas berat. Kedalaman pernafasan menurun.

f. Sistem gastrointestinal : kehilangan gigi,sehingga menyebkan gizi buruk , indera pengecap menurun krena adanya iritasi selaput lendir dan atropi indera pengecap sampai 80 %, kemudian hilangnya sensitifitas saraf pengecap untuk rasa manis dan asin

g. Sistem genitourinaria : ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi sehingga aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, GFR menurun sampai 50 %. Nilai ambang ginjal terhadap glukosa menjadi meningkat. Vesika urinaria, otot-ototnya menjadi melemah, kapasitasnya menurun sampai 200 cc sehingga vesika urinaria sulit diturunkan pada pria lansia yang akan berakibat retensia urine. Pembesaran prostat, 75 % doalami oleh pria diatas 55 tahun. Pada vulva terjadi atropi sedang vagina terjadi selaput lendir kering, elastisitas jaringan menurun, sekresi berkurang dan menjadi alkali.

h. Sistem endokrin : pada sistem endokrin hampir semua produksi hormon menurun, sedangkan fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, aktifitas tiroid menurun sehingga menurunkan basal metabolisme rate (BMR). Porduksi sel kelamin menurun seperti : progesteron, estrogen dan testosteron.

i. Sistem integumen : pada kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kepala dan rambut menuipis menjadi kelabu, sedangkan rambut dalam telinga dan hidung menebal. Kuku menjadi keras dan rapuh.

j. Sistem muskuloskeletal : tulang kehilangan densitasnya dan makin rapuh menjadi kiposis, tinggi badan menjadi berkurang yang disebut discusine vertebralis menipis, tendon mengkerut dan atropi serabut erabit otot , sehingga lansia menjadi lamban bergerak. otot kam dan tremor.

3.2 Perubahan Mental

faktor-faktyor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :

a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa

b. Kehatan umum

c. Tingkat pendidikan

d. Keturunan

e. Lingkungan

Kenangan (memori) ada 2 :

a. kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu

b. kenangan jang pendek : 0-10 menit, kenangan buruk

Intelegentia Question :

a. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal

b. Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktor waktu.

3.3 Perubahan Perubahan Psikososial

a. Pensiun : nilai seorang dukur oleh produktifitasnya, identits dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan

b. Merasakan atau sadar akan kematian

c. Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit.

Batasan-batasan Lansia

Batasan seseorang dikatakan Lanjut usia masih diperdebatkan oleh para ahli karena banyak faktor fisik, psikis dan lingkungan yang saling mempengaruhi sebagai indikator dalam pengelompokan usia lanjut. Proses peneuan berdasarkan teori psikologis ditekankan pada perkembangan). World Health Organization (WHO) mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut :

  1. Middle Aggge (45-59 tahun)
  2. Erderly (60-74 tahun)
  3. Old (75-90 tahun)
  4. Very old (> 91 tahun)

4. Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Biologik (Fisik).

Perawatan dengan perubahan fisik adalah perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yagn dialami oleh lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya.

Perawatan fisik ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

a. Perawatan bagi usila yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga kebutuhannya sehari-hari bisa dipenuhi sendiri.

b. Perawatan bagi usila yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau kesakitan sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan kebutuhannya sendiri. Disinilah peran perawat teroptimalkan, terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya, dan untuk itu perawat harus mengetahui dasar perawatan bagi pasien lansia.

Peran perawat dalam membantu kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. Selain itu kemunduran kondisi fisik akibat proses ketuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan infeksi dari luar. Untuk para lansia yang masih aktif, peran perawat sebagai pembimbing mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidir, hal makanan, cara mengkonsumsi obat, dan cara pindah dari kursi ke tempat tidur atau sebaliknya. Kegiatan yang dilakukan secara rutin akan sangat penting dipertahankan pada lansia dengan melihat. Kemampuan yang ada, karena adanya potensi kelemahan atropi otot dan penurunan fungsi.

5. Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Sosial.

Dalam perannya ini, perawat perlu melakukan pendekatan sosial sebagai salat satu upayanya adalah memberikan kesempatan berkumpul dengan sesama usila. Mereka dapat bertukar cerita atau bertukar pikiran dan memberikan kebahagiaan karena masih ada orang lain yang mau bertukar pikiran serta menghidupkan semangat sosialisasi. Hfasil kunjungan ini dapat dijadikan pegangan bahwa para lansia tersebut adalah makluk sosial juga, yang membutuhkan kehadiran orang lain.

6. Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Psikologi.

Pada lansia, terutama yang melakukan kegiatan pribadi, memerlukan bantuan orang lain, memerlukan sebagai suporter, interprester terhadap segala sesuatu yang asing, penampung rahsia pribadi, dan sahabat yang akrab. Peran perawat disini melakukan suatu pendekatan psikis, dimana membutuhkan seorang perawat yang memiliki kesabaran, ketelitian dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai keluhan agar para usila merasa puas.

Pada dasarnya pasien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih lingkungannya, termasuk perawat sehingga perawat harus menciptakan suasana aman, tenang dan membiarkan klien lansia melakukan atau kegiatan lain yang disenangi sebatas kemampuannya.

Peran perawat disini juga sebagai motivator atau membangkitkan kreasi pasien yang dirawatnya untuk mengurangi rasa putus asa, rendah diri, rasa terbatas akibat ketidak mampuannya. Hal ini perlu dilakukan karena bersamaan dengan makin lanjutnya usia, terjadi perubahan psikis yang antara lain menurunnya daya ingat akan peristiwa yang baru saja terjadi, perubahan pola tidur dengan kecenderungan untuk tiduran di siang hari dan pengeseran libido.

Mengubah tingkahl laku dan pandangan terhadap kesehatan lansia tidak dapat dilakukan seketika. Seorang perawat harus melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap serta mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilalui tidak menambah beban tetapi justru tetap memberikan rasa puas dan bahagia.

Masalah / Diagnosa Keperawatan

Fisik / Biologis

a. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh s.d. intake yang tidak adekuat)

b. Gangguan persepsi s.d. gangguan pendengaran/penglihatan.

c. kurangnya perawtan diri s.d. menurunnya minat dalam merawat diri.

d. resiko cidera fisik (jatuh) s.d. penyesuaian terhadap penurunan fungsi tubuh tidak adekuat.

e. perubahan pola eliminasi s.d. pola makan yang tidak efektif.

f. gangguan pola tidur s.d. kecemasan atau nyeri.

g. gangguan pola nafas s.d. penyempeitan jalan nafas.

h. gangguan mobilisasi s.d. kek sendi.

Spiritual

1. reaksi berkabung / berduka s.d. ditinggal pasangan.

2. penolakan terhadap proses penuaan s.d. ketidaksiapan menghadapi kematian.

3. marah terhadap Tuhan s.d. kegagalan yang dialami.

4. perasaan tidak tenang s.d. ketidakmampuan melakukan ibadah secara tidak tepat.


Intervensi keperawatan

Tujuan perencanaan :

Membantu lansia berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik, psikologis, dan sosial dengan tidak tergantung pada orang lain.

Tujuan tindakan keperawatan :

Diarahkan untuk memenuhi kebuutuhan dasar :

a. Pemenuhan kebutuhan nutrisi

b. Meningkatkan keamanan dan keselamatan.

c. Memlihara kebersihan diri

d. Memelihara keseimbangan istirahat / tidur.

e. Meningkatkan hubungan interpersonalmelalui komunikasi efektif.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi

Þ Peran pemenuhan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kkesehatan dan kebugaran serta memperlambat timbulnya penyakit degenaratif sehingga menjamin hari tua tetap sehat dan aktif.

Þ Masalah yang sering dihadapi : penurunan alat penciuman dan pengecapan, pengunyahan kurang sempurna, rasa kurang nyaman saat makan karena gigi tidak lengkap, rasa penuh diperut dan kesukaran BAB karena melemahnya otot lambung dan peristaltik usus sehingga nafsu makan berkurang.

Þ Menolak makan/makan berlebihan akibat kecemasan dan putus asa akibat gangguan tugas perkembangan.

Þ Masalah gizi yang sering timbul : gizi berlebihan, gizi kurang, kekurangan vitamin, kelebihan vitamin.

Intervensi :

1) Berikan makanan porsi kecil tapi sering.

2) Berikan banyak minum dan kurangi makan.

3) Usahakan makanan banyak mengandung serat..

4) Batasai makanan yang mengandung kalori (gula, makanan manis, minyak, makanan berlemak).

5) Kebutuhan kalori laki-laki 2100 kalori, wanita 1700 kalori:

6) KH 60% dari jumlah kalori

7) Lemak 15 – 20%

8) Protein 20 – 25%

9) Vitamin dan mineral > kebutuhan usia muda.

10) Air 6 – 8 gelang/hari.

11) Membatasi minum kopi dan teh.

Meningkatkan keamanan dan keselamatan lansia

Þ Kecelakaan yang sering terjadi : jatuh, kecelakaan lalu lintas, kebakaran è karena fleksibilitas kai mulai berkurang, penurunan fungsi pendengaran dan penglihatan, lingkungan yang kurang aman

Intervensi:

1) biarkan menggunakan alat bantu

2) latih untuk / mobilisasi

3) menggunakan kaca mata

4) menemani bila berpergian

5) ruangan dekat kantor

6) meletakkan bel dibawah bantal

7) tempat tidur tidak terlalu tinggi

8) menyediakan meja kecil dekat tempat tidur

9) lantai bersih, rata dan tidak licin / basah

10) Peralatan yang menggunakan roda dikunci

11) Pasang pengaman dikamar mandi

12) Hindari lampuyang redup dan yang menyilaukan ( sebaiknya lampu 70-100 watt)

13) Gunakan sepatu dan sandal yang beralat karet


Memelihara kebersihan diri :

Þ Sebagaian lansia mengalami kemunduran /motivasi untuk melakukan perawatan diri secara teraturè karena penurunan daya ingat, kebiasaan diusia muda, kelemahan dan tidakmampuan.

Þ Masalah :keringat berkurang è kulit lansia bersisik, kering

Intervensi :

1) Mengingatkan / membantu

2) Menganjurkan untuk menggunakan sabun lunak dan gunakan skin lotion.

Memelihara keseimbangan istirahat / tidur :

Þ Masalah yang sering terjadi :gangguan tidur

Intervensi :

1) Menyediakan tempat tidur yang nyaman

2) Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi

3) Melatih melakukan latihan fisik yang ringan (berkebun, berjalan, dll)

Meningkatkan hubungan interpersonal :

Þ Masalah yang sering ditemukan : penurunan daya ingat, pikun, depresi, lekas marah mudah tersinggung, curiga dapat terjadi karena hubungan interpersonal yang tidak adekuat

Intervensi

1) Berkomunikasi dengan kontak mata

2) Memberikan stimulus/mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan

3) Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan

4) Menghargai pendapat lansia

5) Melibatkan lansia dalam kegiatan sehari–hari sesuai dengan kemampuan.

1. Konsep Asma

a. Pengertian

Asma merupakan penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma.(Ngastiyah,2005:82)

Menurut Dr.M.C.Widjaja, 2002, asma adalah suatu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang disertai oleh alergi.

Sedangkan menurut Jan A.Kuzemko,1972, asma merupakan suatu perubahan status dinamik dari saluran pernapasan karena bermacam – macam stimuli dengan akibat sumbatan jalan udara dalam berbagai derajat dan lamanya, serta dapat kembali normal sebagian atau sempurna secara spontan atau dengan pengobatan.

Berdasarkan atas pengertian asma seperti yang telah diuraikan maka untuk manifestasi serangan asma harus ada pencetus dan ada dasar hiperaktivitas dari bronkus. Serangan asma dapat berupa sesak napas ekspiratori yang paroksismal berulang – ulang dengan mengi dan batuk yang diakibatkan konstriksi atau spasme otot bronkus, inflamasi mukosa bronkus, dan produksi lendir kental berlebihan.

Insiden sebenarnya dari asma pada anak belum diketahui. Karena pada kira – kira separuh populasi penderita dewasa dengan asma dan dan hay fever gejala yang pertama muncul sewaktu anak – anak, maka penyelidikan mengenai subyek ini pada anak erat hubungannya dengan kejadiannya pada orang dewasa. Diduga yang memegang peranan utama ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus (hiperaktivitas bronkus), yang belum jelas diketahui penyebabnya. Faktor yang merangsang timbulnya asma adalah alergen fisik, kimia dan infeksi yang masuk ke saluran pernapasan. Misalnya debu, perubahan iklim, uap, bahan kimia, dan infeksi saluran pernapasan akibat bakteri yang merupakan antigen. Selain itu asma sangat erat kaitannya dengan faktor keturunan (genetik). Anak yang memiliki orang tua penderita asma akan memiliki kemungkinan menderita asma sekitar 50%. Faktor lain yang lebih kecil jumlahnya adalah faktor psikis (kejiwaan).

Seperti yang dijelaskan diatas, alegi terjadi akibat adanya raksi alergen terhadap antibody (IgE pada orang yang menderita alergi) sehingga terjadi pelepasan histamin yaitu zat yang menyebabkan penyempitan atau pembengkakan pada dinding saluran pernapasan. Akibatnya produksi lendir berlebihan pad terjadi gangguan pernapasan

b. Penyebab asma

· Penyebab ekstrinsik:

1) Debu di dalam rumah, seperti debu dari kasur kapuk, permadani, sofa, pakaian yang disimpan lama dalam lemari, langit – langit rumah, buku – buku (arsip lama) dan asap rokok.

2) Makanan terutama jenis ikan laut, susu sapi, telur dan cokelat. Juga makanan pedas, dingin, bergetah, asin atau manis.

3) Bulu binatang yang menempel di sofa, permadani, sprei atau tirai.

4) Perubahan cuaca dan kelembapan udara.

· Penyebab instrinsik:

1) Riwayat keluarga (keturunan), banyak orang yang tidak mengalami alergi dalam waktu cukup lama, tetapi setelah 5 – 10 tahun ternyata mengalami, dengan kerentanan yang sama terhadap alergen yang di derita orang tuannya.

2) Faktor kejiwaan, gangguan kejiwaan seperti cemas, marah dan takut.

c. Mekanisme asma

Alergen yang masuk ke dalam tubuh merangsang sel plasma menghasilkan IgE yang selanjutnya menempel pada reseptor dinding sel mast. Sel mast in idisebut sel mast tersensitisasi.

Bila alergen serupa masuk ke dalam tubuh, alergen tersebut akan menempel ada sel mast tersensitisasi yng kemudian mengalami degranulasi dan mengeluarkan sejumlah mediator seperti histamin, leukotrien, faktor pengaktivasi platelet, bradikinin, dll. Mediator ini menyebabkan peningkatan permeabelitas kapiler sehingga timbul odema, peningkatan produksi mukus, dan kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis.

d. Manifestsi klinis

Inflamasi di saluran napas inidapat menyebabkan timbulnya episode mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khusunya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang sebagian besar bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala dan serangan asma biasanya timbul bila pasien terpajan dengan faktor pencetus yang sangat beragam dan bersifat individual.

e. Komplikasi

Jika sering terjadi dan telah berlangsung cukup lama serangan asma akan mengakibatkan :

- Paru – paru basah

- Perubahan bentuk toraks, torak membungkuk ke depan

- Jantung menyempit

- Jika banyak jumlahnya maka lendir akan menyumbat paru dan akanmengganggu konstraksi paru.

- Serangan asma berlanjut disebut asmaticus.

- Pada anak sekolah asma menyebabkan kehilangan inisiatif, merasa rendah diri dan mengalami gangguan emosi.

- Serangan asma pada usia dewasa lbih berat dan menetap.

f. Pencegahan

1. Menjauhi alergen,jika memang telah jelas alergen yang dimaksud

2. Dihindarkan dari infeksi saluran pernapasan (jika ada gejala flu harus segera diobati)

3. Desensitisasi atau hiposensitisasi (stimulan alergen) sehingga terbentuk kekebalan dengan alergen yang bersangkutan.

4. Melakukan fisioterapi

5. Melakukan akupuntur


  1. Pengkajian

Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma – norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang terintegrasi dan kesanggupan keluarga untuk mengatasinya.(Effendi,1998:46)

Pengkajian meliputi:

1. Pengumpulan data:

Pengumpulan data, dapat dilakukan melalui cara:

a. Wawancara: berkaitan dengan hal - hal yang perlu diketahui, baik aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan lingkungan dan sebagainya.

b. Pengamatan: pengamatan terhadap hal – hal yang tidak perlu ditannyakan. Karena sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja, diantaranya yang berkaitan dengan lingkungan fisik, missal ventilasi, penerangan, kebersihan dan sebagainya.

c. Studi dokumentasi: studi berkaitan dengan perkembangan kesehatan anak, diantaranya melalui KMS, KK dan catatan kesehatan lainnya.

d. Pemeriksaan fisik:dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dna keperawatan, berkaitan dengan keadaan fisik, misalnya hamil, kelainanan organ tubuh dan tanda – tanda penyakit.

Data yang dikumpulkan meliputi hal – hal sebagai berikut:

1. Identitas keluarga

2. Riwayat kesehatan keluarga baik yang sedang dialami maupun yang pernah dialami.

3. Anggota keluarga

4. Jarak antara lokasi dengan fasilitas kesehatan masyarakat yang ada

5. Keadaan keluarga, meliputi:

a. Biologis

b. Psikologis

c. Social

d. Cultural

e. Spiritual

f. Lingkungan

g. Dan data penunjang lainnya

2. Analisa Data

Di dalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melilhat perkembangan kesehatan keluarga yaitu:

1. Keadaan kesehatan yang normal dari setiap anggota keluarga,meliputi:

a. Keadaan fisik, mental,sosial anggota keluarga

b. Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga

c. Keadaan gizi anggota keluarga

d. Status imunisasi anggota keluarga

e. Kehamilan dan keluarga berencana

2. keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, meliputi:

a. Rumah meliputi: ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi, luas rumah dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan sebagainya.

b. Sumber air minum

c. Jamban keluarga

d. Tempat pembuangan limbah

e. Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.

3. Karakteristik keluarga:

a. Sifat – sifat keluarga

b. Dinamika dalam keluarga

c. Komunikai dalam keluarga

d. Interaksi antar anggota keluarga

e. Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota keluarga

f. Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.

3. Perumusan Masalah

Perumusan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga yang diambil didasarkan kepada konsep, prinsip, teori dan standar yang dapat dijadikan acuan dalam menganalisa sebelum mengambil keputusan tentang masalah kesehatan dan keperawatan keluarga.

  1. Typologi Masalah

Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar yaitu:

1. Ancaman kesehatan: adalah keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan. Yang termasuk dalam ancaman keshatan adalah:

a. Penyakit keturunan seperti asma bronkiale, diabetes mellitus

b. Keluarga / anggota keluarga yang menderita penyakit menular, seperti TBC, Gonoroe, Hepatitis dll.

c. Jumlah anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga.

d. Resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga, misalnya benda tajam diletakkan sembarangan.

e. Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing – masing anggota keluarga

f. Keadaan –keadaan yang dapat menimbulkan stres, antara lain:

1. Sanitasi lingkungan buruk,diantaranya:

2. Kebiasaan – kebiasaan yang merugikan kesehatan:

3. Sifat kepribadian yang melekat misalnya pemarah

4. Riwayat persalinan sullit

5. Memainkan peranan yang tidak seuai, misalnya anaka wanita memainkan peranan ibu karena meninggal.

6. Imunisasi anak tidak lengkap.

2. Kurang / tidak sehat: adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan. Yang termasuk didalamnya adalah:

a. Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum didiagnosa

b. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.

3. Situsi krisi: adalah saat – saat yang banyak menuntut individu atau keluarg dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga. Yang termasuk dalam situasi krisi adalah:

a. Perkawinan

b. Kehamilan

c. Persalinan

d. Masa nifasmenjadi orang tuapenambahan anggota keluarga, misalnya bayi baru lahir

e. Abortus

f. Anak masuk sekolah

g. Anak remaja

h. Kehilangan pekerjaan

i. Kematian anggota keluarga

j. Pindah rumah.

  1. Perencanaan

1. Prioritas Masalah

Adapun skala kriteria untuk menyusun masalah kesehatan dengan menggunakan table prioritas massalah yang mengandung nilai (score dan bobot) tersendiri sehingga tabel score tertinggi akan menduduki prioritas pertama untuk mendapatkan asuhan keperawatan.

Skala untuk menyusun masalah kesehatan keluarga sesuai dengan priorotasnya dapat menggunakan 4 kriteria berikut ini:

No

Kriteria

Score

Bobot

1

Sifat masalah

Skala: Ancaman kesehatan

Aktual (deficit / ada gangguan kesehatan)

Krisis

2

3

1

1

2

Kemungkinan masalah dapat dirubah

Skala: Dapat diubah

Hanya sebagian

Tidak dapat dirubah

2

1

0

2

3

Potensi masalah bila dicegah

Skala: Tinggi

Cukup

Rendah

3

2

1

1

4

Menonjolkan masalah

Kemungkinan masalah dapat dirubah

Skala: Masalah dirasakan dan segera ditangani

Masalah ada tetapi tidakperlu segera ditangani

Masalah tidak dirasakan

2

1

0

1

  1. Rencana keperawatan gerontik

Rencana keperawatan gerontik adalah sekumpulan tindakan yang ditemukan perawat untuk dilakukan, alam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasikn.(Effendi, 1998:54)

Dalam rencana keperawatan terdiri dari sasaran, tujuan, kriteria standart. Intervene dan rassional. Berdasarkan kemungkinan masalah kesehatan dan keperawatan pada kasus asma makas sasara, tujuan, kriteria standart dan intervensinya adalah:

Masalah kesehatan : penyakit sama pada anggota keluarga

a. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan

Sasaran : setelah dilakukan asuhan keperawatan gerontik mampu mengenal penyakit asma pada anggota keluarga

Tujuan : setelah dilakukan satu kali kunjungan diharapkan lansia dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala penyakit asma.


PENGKAJIAN

1. IDENTIFIKASI DATA

Tanggal pengkajian : 25 Januari 2007

A. Kepala Keluarga

1. Nama kepala keluarga : Tn . K

2. Jenis kelamin : laki - laki

3. Umur : 65 tahun

4. Agama : Islam

5. Pekerjan : -

6. Pendidikan : SD

7. Alamat : RT 02 RW 06 Kel. Sukoharjo Malang

B. Komposisi Keluarga

No

Nama

Jenis kelamin

hubungan

umur

pekerjaan

pendidikan

1

Tn. K

Pria

suami

65 tahun

Swasta

SD

2

Ny. S

wanita

Istri

65 tahun

Ibu rumah tangga

SD

3

Tn. SU

Pria

Anak

35 tahun

Swasta

SMA

4

Ny. SS

Wanita

Anak

30 tahun

Ibu rumah tangga

SMA

2. Genogram

Terlampir 1

3. Tipe / Bentuk Keluarga

Tipe keluarga Tn.K adalah. keluarga inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak – anak.

4. Latar Belakang Budaya

Tn. K berasal dari suku Jawa. Sementara lingkungan tempat tinggalnya adalah lingkungan yang heterogen terdiri dari beberapa suku tetapi meskipun demikian kehidupan antar suku tetap rukun. Kegiatan apapun yang dilakukan di daerah setempat selalu diikuti secara berkelompok atau bersama – sama. Untuk menjalin komunikasi baik antar keluarga, tetangga dan lingkungan sekitarnya keluarga menggunakan bahasa jawa terkadang juga bahasa Indonesia.

5. Identifikasi Religius

Tn. K memeluk agama Islam. Kesadaran agama Tn. K cukup yaitu dengan menjalankan sholat 5 waktu, membaca Al – quran juga dilakukannya, perkumpulan pengajian juga diikuti oleh Tn.K di kampungnya.

6. Status Kelas Sosial (Berdasarkan Pekerjaan, Pendidkan Dan Pendapatan)

Tn.K Bekerja di pasar, dan dirumahnya Ny. S membuka warung sayur di Bantu anaknya yang tinggal bersamanya.

7. Aktifitas Dan Waktu Luang

Tn.K menghabiskan waktunya dengan berjualan di pasar bersama anakny. Riwayat Pekerjaan

8. Sumber Pendapatan

Sumber pendapatan keluarga Tn.K adalah dari berjualan di pasar, dan juga dapat dari anak – anaknya dan hasil bekerjanya. Pengeluaran perbulan Tn.K sekitar RP 600.000

RIWAYAT KESEHATAN

Keluhan yang dirasakan saat ini

Tn.K

keluhan yang dirasakan 3 bulan terakhir

penyakit saat ini

DATA LINGKUNGAN

Karakteristik Rumah

Klien tinggal bersama dua anak . Kondisi rumah layak untuk dijadikan tempat tinggal. Rumah Tn.K terbuat dari tembok permanen, lantai terbuat dari tegel. Desain rumah Tn.K terdiri dari ruang tamu tanpa kursi hanya terdapat karpet sebagai tempat duduk, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan halaman belakang.rumah Tn.K ventilasi cukup. Rumah klien masih terdapat banyak debu, banyaknya lalat karena musim penghujan telah tiba menjadi faktor kurangnya kebersihan rumah.

Denah Rumah

Terlampir 2

Karakteristik Lingkungan Dan Komunitas Tempat Tinggal Yang Lebih Luas

Tn.K tinggal di daerah perkotaan yaitu daerah perkampungan yang padat. Di depan rumahnya terdapat tanah kosong, ditanami pohon pisang, sedang disebelahnya lagi terdapat rumah – rumah penduduk yang merupakan penduduk pendatang juga pnduduk asli. Transportasi mudah dijangkau dengan naik angkutan kota untuk ke puskesmas kedung kandang.

Mobilits Geografis Keluarga

Anak Tn.K yang mendampingi Tn.K mengatakan tinggal dirumah ini sejak 25 tahun yang lalu sebelumnya Tn.K tinggal di Wilayah sujoharjo juga.

Hubungan Keluarga Dengan Fasilitas – Fasilitas Dalam Komunitas

Di dalam anggota keluarga baik Tn.K atau keluarga keluarga lain sering menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungannya seperti puskesmas. Fasilitas ini digunakan bila ada anggota keluarga yang sakit baik berobat atau untuk memeriksakan kesehatannya saja. Untuk membayar keluarga Tn.K menggunakan pembayaran umum, sehingga derajat kesehatan keluarga dapat ditingkatkan.

STRUKTUR KELUARGA

Pola Komunikasi

Pola komunikasi dalam keluarga Tn.K merupakan pola komunikasi yang baik karena Tn.K dapat berkomunikasi dengan anak dan cucunya setiap waktu saat dirumah.

Struktur Kekuasaan, Peran Dan Nilai – Nilai Dalam Keluarga

Anak Tn.K mengatakan dalam mengambil keputusan dilakukan diskusi, yang nantinya akan diambil keputusan yang disepakati bersama.

FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi Afektif, Fungsi Sosialisasi, Dan Fungsi Perawatan Kesehatan

. Fungsi Afektif

Tn.K mengatakan segala keputusan akan di ambil yang terbaik terutama akan dapat pertimbangan dari anaknya yang menjadi kepala keluarga sebagai ganti suaminya yang telah meninggal dunia.

Fungsi Sosialisasi

- Tn.K bersosialisasi dengan baik, menggunakan bahasa jawa dan terkadang menggunakan bahasa Indonesia, tergantung siapa dan bagaimana orang tersebut berbicara.

Fungsi Perawatan Kesehatan

Tn.K tidak menganut mitos – mitos tertentu untuk masalah kesehatan. Tn.K beranggapan bahwa kesehatan sangat penting karena dengan sehat jasmani dan rohani maka segala rencana dalam hidup dapat dicapai dengan baik.

KEBUTUHAN DASAR HIDUP SEHARI – HARI

Nutrisi

Pengadaan makanan keluarga sehari – hari dengan memasak sendiri. Jenis makanan antara lain nasi, sayur, lauk pauk. Kebiasaan makan keluarga 3x sehari yaitu pagi, siang, malam. Tapi khusus makan siang mereka tidak bersama – sama karena anaknya belum pulang kerja. Klien tidak memiliki pantangan terhadap makanan apa pun baik itu lauk, sayur, maupun jajanan.

Kebiasaan Eliminasi

Pola BAB 1x/hari tidak ada gangguan dengan babnya

Pola BAK 5-6x/hari tidak ada gangguan dengan pola BAK

Exercise

Tn.K hanya melakukan jalan – jalan pagi atau kadang langsung ke dapur untuk masak.

Kebersihan Diri

Tn.K mansi 2x/hari, gosok gigi saat mandi, bangun tidur dan akan tidur, keramas 3 hari sekali

Istirahat

Lama tidur Tn.K mulai dari jam 21.00 dan bangun sekitar jam 04.30. untuk tidur siang Ny. J hanya kadang – kadang saja.

2. PEMERIKSAAN FISIK

No.

pemeriksaan

Tn.K

1.

Pemeriksaan TTV

Suhu

Nadi

RR

Tekanan darah

Berat badan

Tinggi badan

36,3 C

85 x/ menit

18 x/ menit

130 /90 mmHg

48 kg

148 cm

2.

Pemeriksaan Fisk

keadaan umum

Keadaan umum cukup (CM) GCS 4 -5-6

3.

Pmeriksaan kepala dan leher

Leher

- Kepala

Penyebaran rambut

Warna rambut

Bentuk kepala

Benjolan / bekas luka

- Leher

Trachea

Vena jugularis

Kelenjar karotis

Nadi carotis

Rata

Hitam dan beruban

Brachiocephalus

Tidak ada

Simetris / middle

Tidak teraba

Tidak ada pembesaran

Teraba 85x/ menit

4.

Pemeriksaan wajah

- Mata

Bentuk

Wajah

Palpebra

Konjungtiva

Sclera

Bola mata

Kornea

Pupil

- Hidung

Bentuk

Meatus

Mukosa

Rinore / secret

- Mulut

Bibir

Mukosa

Orofaring

Lidah

Gigi

gusi

Simetris

Moonface tidak ada

Tidak ada odema

Tidak anemis

Putih, iritasi (-)

Nyeri tekan (-), radang (-)

Hitam

isokor

simetris

radang (-)

lembab

tidak ada sekret

merah

lembab

tidak ada radang, tidak bau

bersih

caries + , gigi tanggal +

bersih, tidak ada stomatitis

5.

Pemeriksaan toraks

1. paru

- Inspeksi

- Palpasi

- Perkusi

- Auskultasi

Normal chest, tidak ada luka

Vocal vremitus suara sama

Suara paru hipersonor

Wheezing (+), lapang paru tidak terkaji.

Rhonci (-)

6.

Pemeriksaan abdomen

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

auskultasi

Datar, benjolan (-) lesi (-), tidak ada bayangan pembuluh darah vena

Nyeri tekan (-), massa (-), tidak ada pembesaran hepar

Timpani, acites (-)

Peristaltic usus 20x/menit

7.

Pemeriksaan punggung dan tulang

Inspeksi

ekstrimitas

Tidak ada kelainan pada tulang belakang, tidak ada fraktur, tidak ada nyeri tekan pada sendi.

Tidak ada odema, tungkai kanan / kiri simetris, tidak ada kontrktur, kekuatan otot

5 5




5 5

8.

Pemeriksaan fungsi pendengaran / penglihatan/ hidung / tenggorokan

- fungsi pendengaran

- fungsi pengelihatan

- fungsi hidung

- fungsi tenggorokan

Baik: dekstra (+), sin (+)

Mata kanan dan kiri baik

baik

baik

9.

Pemeriksaan integument

Warna kulit

Turgor kulit

Kelembaban kulit

Kecoklatan

<>

kulit kering karena klien jarang memakai pelembab kulit

TYPOLOGI MASALAH

a. Tahap Penjajakan Pertama

Berdasarkan pengkajian maka penulis mampu mendapatkan masalah kelurga Tn.K sebagai berikut:

1. Ancaman kesehatan

Ada data yang mendukung terjadinya ancaman kesehatan dalam anggota keluarga

2. Sakit / Tidak Sakit

Penyakit asma pada salah satu anggota keluarga (Tn.K)

Data yang mendukung:

Tn.K dinyatakan menderita asma,klien mengatakan bila bernafas sesak sejak malam hari saat akan tidur, pusing, dan tidak dapat melakukan aktivitas pada pagi harinya, dan klien mengatakan tidak tahu cara mengatasi sesak napasnya. Klien juga kelelahan jika beraktivita berat Kemudian klien memeriksakan diri di puskesmas kedung kandang.

3. Krisis

Tidak ada data yang mendukung terjadinya krisis dalam anggota keluarga Tn.K.

b. Tahap Penjajakan Kedua

Tahap penjajakan kedua ini adalah merupakan suatu langkah dalam melakukan asuhan keperawatan keluarga yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah keluarga dalam melaksanakan tugas terhadap pemeliharaan kesehatannya.

Format prioritas diagnosa keperawatan

a. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita asma.

No.

kriteria

score

bobot

perhitungan

pembenaran

1.

Sifat masalah

-tidak / kurang sehat

3

1

3/3 x 1 = 3/3

Ny.. J menderita sama.

Masalah asma adalah tidak / kurang sehat sehingga memerlukan tindakan cepat agar tidak memperburuk keadaan

2.

Kemungkinan masalah dapat diubah

- hanya sebagian

1

2

½ x 2 = 1

Pengobatan yang rutin dapat mengurangi maslah. Apabila pengobatan tidak rutin resiko komplikasi

3.

Potensi masalah untuk dicegah

- cukup

2

1

2/3 x 1 = 2/3

masalah komplikasi lanjut dari asma dapat dicegah bila alergen dapat dihindari melalui perawatan yangbaik,mulai dari ventilasi, kebersihan rumah, siaga terhaddap perubahan cuaca.

4.

Menonjolnya masalah

- masalah harus ditangani

2

1

2/2 x 1 = 1

Klien menganggappenyakit asma pada Ny. J harus ditangani.

KET

3 2/3

b. Intoleransi aktivitas b/d ketidak mampuan anggota keluarga melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit.

No.

kriteria

score

bobot

perhitungan

pembenaran

1.

Sifat masalah

- tidak / kurang sehat

3

1

2/3 x 1 = 2/3

Ny.. J menderita sama.

Masalah asma adalah tidak / kurang sehat sehingga memerlukan tindakan cepat agar tidak memperburuk keadaan

2.

Kemungkinan masalah dapat diubah

- hanya sebagian

1

2

½ x 2 = 1

Pengobatan yang rutin dapat mengurangi maslah. Apabila pengobatan tidak rutin resiko komplikasi

3.

Potensi masalah untuk dicegah

- cukup

2

1

2/3 x 1 = 2/3

masalah komplikasi lanjut dari asma dapat dicegah bila alergen dapat dihindari melalui perawatan yangbaik,mulai dari ventilasi, kebersihan rumah, siaga terhaddap perubahan cuaca.

4.

Menonjolnya masalah

- masalah harus ditangani

2

1

½ x 1 = 1/2

Klien menganggappenyakit asma pada Tn. K harus ditangani.

KET

2 5/6


Analisa data

Massalah kesehatan : penyakit asma pada Tn.K.

No.

Data

Masalah Keperawatan

1.

Ds :

- Tn.K mengatakan sesak nafas sejak malam hari saat akan mulai tidur

- Klien mengatakan kepalanya pusing

- Klien mengatakan tidak tahu bagaimana cara mengatasi sesak napasnya .

Do:

- TD : 130 / 90 mmHg

- Nadi : 85 x/menit

- RR : 18 x/ menit

- Tn.K tinggal bersama anak dan cucunya

- Pendidikan MTs

- Usia 50 tahun

- Lokasi fasilitas kesehatan dapat ditempuh dengan naik angkota

- Sumber informasi dari puskesmas

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita asma.

2.

Ds :

- klien mengatakan saat sesak napas tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

- Klien mengatakan kelelahan jika harus beraktivitas berat

- Klien mengatakan susah tidur jika sesak napas

Do :

TD : 130/90 mmHg

Nadi : 85 x/ menit

RR : 18 x/menit

Klien terlihat lelah saat bicara

Klien diantar anaknya saat ke puskesmas

Intoleransi aktivitas b/d ketidak mampuan anggota keluarga melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit.


Rencana Asuhan Keperawatan Gerontik

Nama : Tn.K.

Umur : 65 tahun

No

DX kperawatan

Tujuan

Kriteria Standar

Intervensi

Rasional

1

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan b/d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita asma

Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x15 menit klien mengerti tentang asma

· Klien dapat menyebutkan tanda – tanda dan gejala asma

· Klien dapat mengidentifikasi gejala dini terjadinya asma

· Klien dapat memutuskan tindakan yang harus dilakukan bila mengetahui tanda- tanda asma muncul

1. Kaji tingkat pengetahuan klien

2. Kaji tingkat pendidikan klien

3. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit asma

4. Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan klien

5. Berikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi

1. tingkat pengetahuan klien akan mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan jika menemui ada anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.

2. pendidikan yang semakin tinggi akan mempengaruhi cara berpikir klien terhadap masalah kesehatan

3. dengan berdiskusi konsep tentang asma akan mudah diterima oleh keluarga

4. mengukur pemahaman keluarga tentang asma dan pencegahannya

5. respon positif akan memberikan dampak yang baik kepada keluarga dalam menghadapai masalah kesehatan yang ditemui didalam kelurga


Lampiran 2

Denah Rumah

12










Lampiran 1

Genogram

Keterangan:

: laki laki (Tn.K)

: laki laki

: wanita

: Tinggal serumah


Implementasi

Nama : Tn. K

Umur : 65 tahun

No. Dx

Tgl

Implementasi

TTD

1

25/01/2007

13/02/2007

6. Mengkaji pengetahuan kilen tentang konsep asma dan masalah kesehatan yang sering muncul dalam keluarga Tn. K

7. Mengkaji tingkat pendidikan klien

  • Tingkat pendidikan klien SLTP

8. Mengukur tanda-tanda vital

TD : 120 / 90 mmHg

Nadi : 84 x/menit

RR : 20 x/ menit

S : 36,5 C

Mendiskusikan dengan klien dan keluarga tentang asma

  • Pengertian asma
  • Tanda dan gejala asma
  • Penyebab atau etiologi asma
  • Pencegahan/upaya yang harus dilakukan
  • Komplikasi yang ditimbulkan oleh asma

Mengevaluasi secara singkat terhadap topik yang telah didiskusikan dengan klien

Memberikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi

pemberian leaftlet asma


Evaluasi

Nama : Tn. K

Umur : 65 tahun

No. Dx

Tanggal

evaluasi

TTD

1

25/01/2007

S: Klien mengatakan asma adalah penyakit paru-paru yang ditandai dengan sesak nafas

O:

- TD : 120 / 90 mmHg

- Nadi : 84 x/menit

- RR : 20 x/ menit

- S : 36,5 C

- Tn. K tinggal bersama kedua anak dan suaminya

- Pendidikan SLTP

- Usia 65 tahun

- Lokasi fasilitas kesehatan dapat ditempuh dengan naik angkota

- Sumber informasi dari puskesmas

A: masalah teratasi sebagian

P : lanjutkan intervensi selanjutnya

1

13/02/2007

S : klien mengatakan sudah mengerti pengertian, tanda gejala, penyebab, pencegahan atau upaya dan komplikasi dari asma

O :

- pendidikan SLTP

- klien menerima leaftlet asma

- TD : 120 / 80 mmHg

- Nadi : 80 x/menit

- RR : 20 x/ menit

A : masalah teatasi

P : hentikan intervensi

0 komentar:

Poskan Komentar

GT Community © 2008 Template by:
SkinCorner