GT community touring di pegunungan

Selasa

akper L A P O R A N ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA BAPAK DWI SUDARNAMTO

L A P O R A N

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PADA KELUARGA BAPAK DWI SUDARNAMTO
Dalam Rangka Praktek Lapangan Keperawatan Komunitas
DI RT.02 RW.01 KEL. BALAS KLUMPRIK KEC. WIYUNG
SURABAYA
----------------------------------------------------------------------------------------






OLEH :
KURNIA BUDI CAHYANI, S.KEP
NIM : 010130351- B


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
S U R A B A Y A
2003

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING


ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PADA KELUARGA BAPAK DWI SUDARMANTO
Dalam Rangka Praktek Lapangan Keperawatan Komunitas
DI RT.01 RW.01 KEL. BALAS KLUMPRIK KEC. WIYUNG
SURABAYA
----------------------------------------------------------------------------------------
OLEH : KURNIA BUDI CAHYANI, S.KEP





SURABAYA, DESEMBER 2003

MENGETAHUI / MENYETUJUI




PEMBIMBING AKADEMIK




SAMILATUL K., SKP.
NIP :



AH. YUSUF, SKP.
NIP :


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia – sia jika tidak menjadi tidak dilanjutkan oleh keluarga di rumah. Secara empiris dapat dikatakan bahwa kesehatan anggota keluarga dan kualitas kehidupan keluarga sangat berhubungan atau sangat signifikan.
Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat, sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pemberian pelayanan kesehatan, perawat harus memperhatikan nilai – nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat menerima.
Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan yang diberikan di tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap memiliki otonomi untuk memutuskan hal – hal yang terkait dengan masalah kesehatannya. Perawat yang melakukan keperawatan di rumah bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk mencegah penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di Indonesia belum ada lembaga ataupun organisasi perawat yang mengatur pelayanan keperawatan di rumah secara administratif. Perawatan yang diberikan di rumah–rumah khususnya oleh perawat komunitas masih bersifat sukarela, belum ada pengaturan terhadap imbalan atas jasa yang diberikan.
Pengalaman belajar klinik memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata asuhan keperawatan keluarga pada keluarga yang mengalami masalah kesehatan dengan penerapan berbagai konsep dan teori keperawatan keluarga serta proses keperawatan sebagai pendekatan.




B. Tujuan.
1. Tujuan umum :
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar klinik mampu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga.
2. Tujuan khusus :
Setelah menyelesaikan belajar klinik mampu :
a. Mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan keluarga
b. Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan keluarga
c. Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan
d. Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan
e. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Dasar
1. Keperawatan Kesehatan Keluarga.
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing- masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya 1989).
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan perawatan (Freeman) adalah keluarga sebagai unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat, keluarga sebagai kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya sendiri, masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit pada salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh keluarga tersebut, keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai usaha-usaha kesehatan masyarakat, perawat dapat menjangkau masyarakat hanya melalui keluarga, dalam memelihara pasien sebagai individu keluarga tetap berperan dalam pengambil keputusan dalam pemeliharaannya, keluarga merupakan lingkungan yang serasi untuk mengembangkan potensi tiap individu dalam keluarga. Sedangkan tujuan perawatan kesehatan keluarga adalah memungkinkan keluarga untuk mengelola masalah kesehatan dan mempertahankan fungsi keluarga dan melindungi serta memperkuat pelayanan masyarakat tentang perawatan kesehatan.

2. Type-Type Keluarga :
a. Keluarga inti (Nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.
b. Keluarga besar (Exstended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (serial family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/janda (single family) yaitu keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (Cahabitation) yaitu dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

B. Tanggung Jawab Perawat
Perawat yang melakukan pelayanan keperawatan di rumah mempunyai tanggung jawab yang meliputi :
1. Memberikan pelayanan secara langsung
Pelayanan keperawatan dapat meliputi pengakajian fisik atau psikososial, menunjukkan pemberian tindakan secara trampil dan memberikan intervensi. Kerjasama dari klien dan keluarga serta pemberi perawatan utama di keluarga dalam perencanaan sangaat penting untuk menjaga kesinambungan perawatan selama perawat tidak ada di rumah. Perawat hanya memberikan perawata dalam waktu yang terbatas. Perawatan yang dilakukan di rumah lebih merupakan tanggung jawab dari keluarga dari pada perawat. Oleh karena itu pendidikan kesehatan menjadi intervensi yang utama dalam perawatan di rumah.

2. Dokumentasi
Pendokumentasian yang dilakukan selama perawatan di rumah sangat penting untuk melihat kemajuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya.

3. Koordinasi antara pelayanan dan manajemen kasus
Perawat bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan para professional lain dalam memberikan pelayanan kepada keluarga. Focus peran perawat yang yang menjadi manajer kasus adalah kemampuan untuk mengkaji kebutuhan, menentukan prioritas kebutuhan, mengidentifikasi cara untuk mememuhi kebutuhan tersebut dan mengimplementasikan rencana yang disusun.

4. Menentukan frekuensi dan lama perawatan
Frekuensi kunjungan adalah kekerapan kunjungan yang dilakukan selama periode waktu tertentut sedangkan lama perawatan adalah lamanya waktu perawatan yang dilakukan di rumah.

5. Advocacy
Tanggung jawab sebagai penasehat bagi klien yang dimaksud di sini adalah peran perawat sebagai penasehat terutama yang berhubungan dengan masalah pembayaran yang terkait dengan pelayanan yang diberikan.

C. Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga meupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga.
1. Tahap Pengkajian
Pengkajian adalah tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya. Hal – hal yang dikaji dalam keluarga adalah :
a. Data Umum :
 Meliputi nama kepala keluarga, alamat, pekerjaan dan pendidikan kepala keluarga, komposisi keluarga yang terdiri dari nama, jenis kelamin, hubungan dengan KK, umur, pendidikan, dan status imunisasi dari masing – masing anggota keluarga serta genogram.
 Type keluarga. Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tiper keluarga tersebut.
 Suku bangsa. Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan
 Agama. Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
 Status sosial ekonomi keluarga. Status social ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status social ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan – kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang – barang yang dimiliki oleh keluarga.
 Aktivitas rekreasi keluarga. Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama – sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.

b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
 Tahap perkembangan keluarga saat ini. Dimana ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
 Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi. Menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
 Riwayat keluarga inti. Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing – masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga.

c. Pengkajian Lingkungan
 Karakteristik rumah. Diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaat ruangan, peletakan perabotan rumah, dan denah rumah.
 Karakteristik tetangga. Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang mempengaruhi kesehatan.
 Mobilitas geografis keluarga. Mobilitas geografis keluarga yang ditentukan dengan kebiasaan keluarga berpindah tempat.
 Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat. Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada.
 Sistem pendukung keluarga. Yang termasuk sistem pendukung adalah jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisik, psikologis, atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan masyarakat setempat.

d. Struktur Keluarga
 Pola komunikasi keluarga. Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.
 Struktur kekuatan keluarga. Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku.
 Struktur peran. Menjelaskan peran dari masingg – masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal.
 Nilai atau norma keluarga. Menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga, yang berhubungan dengan kesehatan.

e. Fungsi Keluarga
 Fungsi afektif. Mengkaji gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan pada keluarga dan keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
 Fungsi sosialisasi. Bagaimanaa interaksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma atau budaya dan perilaku.
 Fungsi perawatan kesehatan. Sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaianan dan perlindungan terhadap anggota yang sakit. Pengetahuan keluarga mengenai sehat – sakit, kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga yaitu :
- mengenal masalah kesehatan : sejauh mana keluarga mengenal fakta – fakta dari masalah kesehatan meliputi pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap masalah.
- mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat : sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah dirasakan, menyerah terhadap masalah yang dialami, takut akan akibat dari tindakan penyakit, mempunyai sikap negative terhadap masalah kesehatan, dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.

- merawat anggota keluarga yang sakit : sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahu tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui sumber – sumber yang ada dalamn keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, keuangan, fasilitas fisik, psikososial), mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap yang sakit.
- memelihara lingkungan rumah yang sehat : sejauh mana mengetahui sumber – sumbver keluarga yang dimiliki, keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene sanitasi dan kekompakan antar anggota keluarga.
- menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di masyarakat : apakah keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan, memahami keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut terjangkau oleh keluarga.
 Fungsi reproduksi. Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota keluarga.
 Fungsi ekonomi. Mengkaji sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya meningkatkan status kesehatan keluarga.

f. Stres dan Koping Keluarga
 Stressor jangka pendek yaitu yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu + 6 bulan dan jangka panjang yaitu yang memerlukan penyelesaian lebih dari 6 bulan.
 Kemampuan keluargaa berespon terhadap situasi atau stressor. Mengkaji sejauhmana keluarga berespon terhadap situasi atau stressor.
 Strategi koping yang digunakan. Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
 Strategi adaptasi disfungsional. Dijelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.

g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluargaa. Metode yang digunakan pada pemeriksaan, tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik.

h. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.

2. Perumusan Diagnosis Keperawatan Keluarga.
Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapatkana pada pengkajian. Tipologi dari diagnosis keperawatan :
a. Aktual (terjadi deficit atau gangguan kesehatan).
Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan.
b. Resiko (ancaman kesehatan)
Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan.
c. Potensial (keadaan sejahtera atau “wellness”)
Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga kesehatan keluarga dapat ditingkatkan.

Dalam satu keluarga perawat dapat menemukan lebih dari satu diagnosa keperawatan. Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan skala prioritas.

3. Perencanaan Keperawatan Keluarga.
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan yang mencakup tujuan umum dan tujuan khusus serta dilengkapi dengan Kriteria dan Standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan.




4. Tahapan Tindakan Keperawatan Keluarga.
Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal – hal dibawah ini :
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberika informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan, dan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
b. Menstimulais keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan, mengidentfikasi sumber–sumber yang dimiliki keluarga dan mendiskusikan tentang konsekuensi tiap tindakan.
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah dan mengawasi keluarga melakukan perawatan.
d. Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat dengan cara menemukan sumber–sumber yang dapat digunakan keluarga dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan keluarga dan membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

5. Tahap Evaluasi
Sesuai rencana tindakan yang telah diberikan, dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga. Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir.


BAB 3
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PADA KELUARGA BAPAK H. KUNAWI
DI RT.01 RW.01 KEL. BALAS KLUMPRIK KEC. WIYUNG

Pengkajian (Tanggal. 02 Desember 2003)
A. Data Umum
1. Nama KK : Bp. Dwi Sudarmanto
2. Umur : 31 th.
3. Alamat : RT 2 RW 1 No. Kel. Balas Klumprik.
4. Pendidikan : S1
5. Pekerjaan : TNI AL.
6. Agama : Islam
7. Komposisi Keluarga :
No. Nama Sex Umur Hub. Dg. KK Pen Agama Pekerjaan Status kes
1. Dwi Sudarmanto L 31 th. KK S1 Islam TNI AL Sehat
2. Arti Purnaningrum P 24 th. Isteri S1 Islam - Sering Pusing
3. M. Farhan
Khoirunnajah L 11 bl. Anak - Islam - Sariawan
4. Ny. Rumiyati P 50 th Mertua SD Islam - Hipertensi

Genogram:









Keterangan :


= laki-laki = Perempuan = Anggota Keluarga Yg Sakit

8. Tipe keluarga : Extended family
Yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan mertua
Kewargaan negara / suku bangsa : Indonesia / Jawa.
9. Agama : Islam.
10. Status social ekonomi keluarga :
Penghasilan keluarga adalah : antara Rp. 1.000.000,- sampai Rp. 2.000.000,- perbulan yang diperoleh darigaji sebagai anggota TNI AL. Menurut pengakuan keluarga penghasilan yang ada cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari
11. Aktivitas rekreasi keluarga :
Kegiatan yang dilakukan keluarga untuk rekreasi nonton TV di rumah. Kadang-kadang kumpul-kumpul dengan sanak saudara atau tetangga dekatnya.

B. Riwayat Perkembangan Keluarga
1. Pada saat ini keluarga Bp. Dwi sedang berada pada tahap perkembangan keluarga yaitu pada tahap keluarga dengan anak balita .
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi:
3. Riwayat kesehatan keluarga
Menurut mertua bp. Dwi , beliau sering pusing dan jari-jari tangan terasa kaku.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (yang lalu)
Ny. Rumiyati menderita Hipertensi sejak operasi angkat kandungan tahun 1999 yang lalu.

C. Keadaan Lingkungan
1. Karakteristik Rumah
Luas rumah yang ditempati + 8,5 m x 11,5 meter, terdiri dari 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 ruang dapur ,1 kamar mandi, 1 gudang, 1 musholla dan di depan ada halaman seluas 8,5m x 10 m. Bangunan rumah belum jadi. Lantai rumah terbuat dari perselin di ruang tamu dan kamardengan keadaan bersih dan penataan alat/probot rumah tangga yang cukup rapi, penerangan dan ventilasi cukup. Sumber air minum dan untuk keperluan cuci dan mandi menggunakan PAM. WC menggunakan septic tank yang terletak di samping rumah



RTamu Kamar Tidur

R. Keluarga
Kamar Tidur
Dapur
K.Mandi




Gb. Denah Rumah Keluarga binaan

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Keluarga Ibu R.
3. Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Ibu Sutri sudah menempati rumah yang ditempatinya sejak berumah tangga sampai sekarang, berdasarkan keterangan dulu daerah sekitar lingkungan tempat tinggal masih jarang ditempati penduduk.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyrakat
Saat berada di kampung, keluarga termasuk anggota masyarakat yang aktif dalam mengikuti kegiatan masyarakat.
5. Sistem pendukung keluarga
Keluarga Bp. H.Kunawi 3 orang, dan anaknya yang sudah menikah juga masih bertempat tinggal di sekitar rumahnya sehingga bila mana ada anggota keluarga yang sakit, semua saling memperhatikan dan membantu untuk penyembuhan.
Fasilitas penunjang kesehatan yang dimiliki keluarga masih kurang, seperti tidak ada dana khusus untuk anggaran pemeliharaan kesehatan, tidak tersedia obat P3K dalam rumah.
Ibu Sami bila sakit atau kambuh hiper tensinya, beliau berobat ke Puskesmas atau klinik Marinir.

D. Struktur Keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Keluarga mengatakan, komunikasi selalu dilakukan untuk minta pertimbangan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Antar anggota keluarga terbina hubungan yang harmonis, dalam menghadapi suatu permasalahan, biasanya dilakukan musyawarah keluarga sebelum memutuskan suatu permasalahan. Anak-anaknya biasa memberikan alternatif pemikiran kepada Bp. H.Kunawi bagaimana untuk memutuskan pemecahan masalah.

2. Struktur Kekuatan Keluarga:
Didalam aktivitas sehari-hari keluarga saling perhatian dan merasakan bahwa mengatasi masalah menjadi tanggung jawab bersama dalam keluarga

3. Struktur Peran Keluarga
a. Bp H.Kunawi sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam membimbing dan mendidik anak-anak serta mengatur rumah tangga dengan dibantu isterinya Hj. Sami.
b. M. Nasrul anak Bp. H.Kunawi yang juga tinggal se rumah dengannya.

4. Nilai dan norma keluarga
Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan dengan nilai dalam agama yang dianutnya serta norma masyarakat disekitarnya. Keluarga ini menganggap bahwa hipertensi yang diderita Bu Hj. Sami adalah penyakitnya orang tua yang biasa terjadi. Tapi upaya untuk mengendalikan dilakukan dengan mengatur makanan dan segera periksa ke Klinik bila dirasakan ada gangguan kesehatannya. Keluarga Bp. H.Kunawi mempercayakan perawatan kesehatannya kepada tenaga kesehatan, akan tetapi bila ada anggota keluarga yang sakit ada kalanya hanya membeli obat di toko dan mengkonsumsi obat tradisional saja.

E. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afeksi
Menurut keterangan keluarga, dalam kehidupan sehari-harinya mereka selalu damai dan saling menjaga kepentingan bersama.
Ibu Hj. Sami memahami keadaan penyakit yang dideritanya dan suami juga membantu sering mengingatkan tentang diet yang harus ditaati oleh isterinya, misalnya makan rendah garam, rendah lemak dan lain-lain. Mereka saling menyayangi dan memberi perhatian.

2. Fungsi Sosial
Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku sosial yang baik. Seperti memenuhi kebutuhan pendidikan, kalau ada kegiatan kemasyarakatan, keluarga selalu ikut didalamnya.

3. Fungsi Perawatan Kesehatan.
Keluarga tidak mampu mengenal masalah kesehatan tentang penyakit hipertensi hal ini ditunjukkan dengan keluarga kurang menyadari dampak masalah kesehatan akibat penyakit hipertensi.
Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan juga terbatas karena keluarga tidak mengetahui secara luas tentang masalah yang terjadi pada penyakit hipertensi.
Keluarga mempunyai kesadaran tentang terciptanya lingkungan yang sehat, hal ini di buktikan dengan aktivitas Bp H.Kunawi dan isterinya, bila ada waktu luang membersihkan ruangan, lingkungan sekitar rumah.
Selama ini keluarga jarang memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, karena keluarga lebih cenderung membeli obat bebas di toko atau mengkonsumsi obat tradisional.

4. Fungsi Reproduksi
Ibu Hj. Sami saat ini sudah berusia 57 tahun dan tidak menjadi akseptor KB karena alasan sudah tua, tidak mungkin hamil. Selama melahirkan mulai anak pertama sampai anak terakhir, tidak mengalami gangguan yang berarti.

5. Fungsi Ekonomi
Keluarga Ibu Sutri menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan setiap hari. Menurut pengakuan keluarga penghasilan tiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Jika ada sisa keuangan, maka disimpan untuk keadaan yang mendadak bagi keluarga.

F. Stress dan Koping Keluarga
1. Stressor yang dimiliki
Stressor jangka panjang yang dirasakan oleh keluarga Bp. H.Kunawi adalah penyakit hipertensi yang diderita isterinya.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Keluarga sudah dapat beradaptasi dengan penyakit yang diderita oleh Ibu Hj. Sami karena sakit yang dideritanya sudah semenjak dahulu dan keluarga yakin bahwa penyakitnya akan sembuh .
3. Strategi koping yang digunakan
Dalam menghadapi suatu permasalahan, biasanya keluarga Bp. H.Kunawi mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan. Beliau memberikan pengertian kepada anggota keluarganya tentang masalah yang dihadapinya. Keluarga berhati-hati dalam memilih makanan terutama yang memiliki kadar garam yang tinggi.

4. Strategi adaptasi disfungsional
Keluarga selalu menyediakan persiapan uang untuk berobat, kalau kalau terjadi kekambuhan hipertensinya.

G. Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga terutama yang diidentifikasi sebagai klien atau sasaran pelayanan asuhan keperawatan keluarga.
1) Pemeriksaan fisik umum:
Keadaan umum Ibu Hj. Sami : Nampak sudah mulai lemah karena sudah memasuki usia lebih dari setengah baya, makan dan minum masih dalam batas normal,
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 160 / 100 mmHg.
Respirasi : 24 x/mnt
Suhu : 36,5 0C
TB : 154 cm

2) Pemeriksaan fisik khusus:
• Kepala dan leher
Pada pemeriksaan kepala, tidak terdapat adanya benjolan, bentuk kepala normal.
• Leher : Pada leher tidak nampak adanya peningkatan tekanan vena jugularis dan arteri carotis.
• Mata : Konjungtiva tidak terlihat anemis, kelopak mata tidak terdapat udema, kornea tampak kehitaman, penglihatan masih baik.
• Hidung : tidak ada kelaianan yang ditemukan.
• Mulut : bibir tidak kering dan tidak terlihat tanda–tanda sianosis.
• Dada : Pergerakan dada terlihat saat inspirasi, Suara jantung S1 dan S2 tunggal, tidak terdapat palpitasi, suara mur–mur tidak ada ronchi (-), wheezing (-), nafas cuping hidung (-).
• Abdomen : Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran hepar, tidak kembung, pergerakan peristaltik usus baik, tidak ada bekas luka operasi.
• Ektrimitas :Pada ekstrimitas atas dan bawah tidak terdapat udema, tidak terjadi kelumpuhan, dari ke-4 ektrimitas mampu menggerakan persendian, mampu mengangkat dan melipat persendian secara sempurna.

H. Harapan Keluarga
Keluarga Ibu Sutri berharap anggota keluarga dapat berperan masing-masing tanpa ada yang mengalami gangguan kesehatannya. Sehingga semua bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Penyaki Hipertensinya dapat sembuh total.



Analisa Data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1.

















2. Data Subyektif:
 Ibu Hj. Sami mengatakan sudah lama mengalami tekanan darah tinggi.
 Ibu Hj. Sami mengatakan kadang-kadang pusing,
 Merasa kaku di daerah tengkuk.

Data obyektif:
Berdasarkan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didaptkan :
 Tekanan darah : 160/100 mmHg.
 Nadi: 84 X/menit.
 Pernafasan : 24 x/menit.
 Suhu : 36,5 x/menit.


Data subyektif:
 Ibu Hj. Sami jarang berobat ke Klinik.
 Ibu Hj. Sami mengatakan berobat ke Klinik bila dirasakan parah. Kalau pusing cukup membeli jamu atau obat di warung saja.

Data obyektif.
 Pendidikan terakhir Ibu
Hj. Sami SD.
 Terakhir kunjungan ke Klinik Kesehatan 6 bulan yang lalu.
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi












Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang, gejala, penyebab, pencegahan dan penatalaksanaan penyakit hipertensi










Resiko terjadinya kesalahan dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi

Rumusan diagnosa keperawatan
1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang, gejala, penyebab, pencegahan dan penatalaksanaan penyakit hipertensi berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

2. Resiko terjadi kesalahan dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal.

3. Resiko terjadinya kecelakaan berhubungan dengan Kondisi fisik yang sudah menurun (Usia > 50 Th )


Skoring perioritas masalah
1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang, gejala, penyebab, pencegahan dan penatalaksanaan penyakit hipetensi berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

NO KRITERIA SKALA BOBOT SKORING PEMBENARAN

1.

a. Sifat masalah : Tidak/kurang sehat




b. Kemungkinan masalah dapat diubah : Hanya sebagian









c. Potensial masalah untuk dicegah : tinggi






d. Menonjolnya masalah : Masalah berat, harus segera ditangani
3





1












2








2

1





2












1








1




Total
3/3x1=1





1/2x2= 1












2/3x1=2/3








2/2x1=1




4
Ketidak tahuan keluarga tentang masalah penyakit hipertensi merupakan bahaya terhadap kondisi klien.


a. Kondisi klien pada usia lansia.

b. Lama penyakit sudah + 10 tahun

c. Berdasarkan prognosa masalah hipertensi hanya sebagian kecil bisa sembuh, dan hanya bisa dilakukan tindakan pencegahan.


a. Penyakit hipertensi memungkinkan untuk dicegah dengan menghindari faktor resiko.

b. Keluarga mau diajak kerjasama (kooperatif)


Bila tidak segera ditanganni maka akan terjadi komplikasi lebih lanjut, seperti stroke, kekumpuhan.


2. Resiko terjadi kesalahan dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal.

NO KRITERIA SKALA BOBOT SKORING PEMBENARAN

1.

a. Sifat masalah : Ancaman kesehatan



b. Kemungkinan masalah dapat diubah : mudah






c. Potensial masalah untuk dicegah : cukup



d. Menonjolnya masalah : Masalah tidak dirasakan
2





2








2





0

1





2








1





1





Total

2/3x1=2/3





2/2x2= 2








2/3x1=2/3





0/2x1=0





3 1/3

penyakit hipertensi , bila dalam melakukan tindakan pengobatan yang salah akan memperberat penyakit hipertensi


a. Respon keluarga mau menerima masukan berupa pendidikan kesehatan
b. Setelah dilakukan tindakan penyuluhan keluarga mau menggunakan fasilitas kesehatan


Penyakit hipertensi dapat dilakukan tindakan pencegahan dengan menghindari faktor resiko.


Bila tidak segera ditanganni maka akan terjadi komplikasi lebih lanjut, seperti stroke, kekumpuhan.

3. Resiko terjadinya kecelakaan berhubungan denganKondisi fisik yang sudah menurun (Usia > 50 Th )

NO KRITERIA SKALA BOBOT SKORING PEMBENARAN

1
a. Sifat masalah : Ancaman kesehatan






b. Kemungkinan masalah dapat diubah : mudah




c. Potensial masalah untuk dicegah : Cukup




d. Menonjolnya masalah : Masalah ada, tapi tak perlu penanganan segera.
2








2







2







1

1








2







1







1






Total

2/3x1=2/3








2/2x2= 2







2/3x1=2/3







1/2x1=1/2






4 ,00

a. Dengan kondisi fisik yang sudah menurun pada lansia akan memudahkan untuk terjadinya kecelakaan baik didalam rumah maupun diluar rumah.


b. Dengan penataan lingkungan perubahan yang teratur akan dapat menghindari kecelakaan, klien memaklumi hal tersebut.


c. Kecelakaan dapat dicegah dengan membatasi bepergian keluar rumah dan menata halaman rumah dengan baik.


d. Bila tidak segera ditangani maka akan terjadi komplikasi lebih lanjut, seperti, daya tahan tubuh rendah, perkembangan terhambat.

Berdasarkan rumusan prioritas di atas, maka dapat diketahui prioritas permasalahan pada Keluarga Ibu Sutri adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang, gejala, penyebab, pencegahan danpenatalaksanaan penyakit hipetensi berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi

2. Resiko terjadi kesalahan dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal.

3. Resiko terjadinya kecelakaan berhubungan dengan Kondisi fisik yang sudah menurun (Usia > 50 Th )

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
No.Dx Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
Umum Khusus Kriteria Standar
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi serangan hipertensi yang lebih berat terhadap Bu Sutri. - Menyebutkan pengertian hipertensi
- Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi (3-6)
- Menyebutkan 3 faktor resiko yang menyebabkan hipertensi
- Menyebutkan 2 akibat hipertensi bila tidak dirawat.
- Menyebutkan 2 cara mencegah timbulnya hipertensi. Verbal (pengetahuan) • Keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda dan gejala penyakit hipertensi.
• Keluarga dapat mengidentifikasi gejala dini terjadinya serangan.
• Keluarga dapat memutuskan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi serangan. 1. Kaji pengetahuan keluarga.
2. Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada Bu Sutri.
3. Kaji tindakan yang pernah dilakukan bila Bu Sutri serangan hipertensi.
4. Diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala peny. Hipertensi.
5. Diskusikan dengan keluarga cara mengiidentifikasi serangan.
6. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan berulang.
7. Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan setiap kali diskusi.
8. berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti.
9. Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga.
10. Berikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga
11. setiap kali diskusi.
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami komplikasi/pecahnya pembuluh darah halus. - Dapat menjelaskan akibat tekanan darah tinggi pada pembuluh darah halus.
- Dapat menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi pecahnya pembuluh darah.
- Dapat menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi. Verbal - Klien dan keluarga dapat menjelaskan akibat tekanan darah tinggi pada pembuluh darah halus.
- Klien dan keluarga dapat menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi pecahnya pembuluh darah.
- Klien dan keluarga dapat menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi. 1. Kaji pengetahuan keluarga.
2. Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada Bu Sutri.
3. Kaji tindakan yang pernah dilakukan bila Bu Sutri mengalami serangan.
4. Diskusikan dengan keluarga tentang akibat peny. Hipertensi pada pembuluh darah.
5. Diskusikan dengan keluarga tentang bagian tubuh yang rawan terjadi pembuluh darah pecah.
6. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
7. Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan setiap kali diskusi.
8. berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti.
9. Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga.
10. Berikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga
11. setiap kali diskusi.

No.Dx. Diagnose keperawatan Tujuan khusus Tanggal Implementasi Evaluasi
1. 1. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang, gejala, penyebab, pencegahan dan penatalaksanaan penyakit hipetensi berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi - Menyebutkan pengertian hipertensi
- Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi (3-6)
- Menyebutkan 3 faktor resiko yang menyebabkan hipertensi
- Menyebutkan 2 akibat hipertensi bila tidak dirawat.
- Menyebutkan 2 cara mencegah timbulnya hipertensi. 24 Pebruari 2003 Penyuluhan tentang :
- pengertian hepertensi
- Penyebab hiper tensi
- Tanda dan gejala hipertensi
- Faktor resiko hipertensi
- Akibat hipertensi
- Upaya pencegahan hiper tensi
S:
- Keluarga khususnya klien Bu Sutri mengatakan mengerti maksud dan tujuan kunjungan hari ini.
- Keluarga dapat menyebutkan pengertian hipertensi
- Menyebutkan tanda dan gejala hipertensi ( 3-6 )
- Menyebutkan 3 faktor resiko yang menyebabkan hipertensi
- Menyebutkan 2 akibat hipertensi bila tidak dirawat
- Menyebutkan 2 cara mencegah timbulnya hipertensi.
O :
- Keluarga Bu Sutri dapat bekerjasama dengan mahasiswa.
- Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi
- Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dapat dilakukan
- Keluarga dapat memberikan responverbal dan non verbal yang baik
- Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan
2. 2. Resiko terjadi kesalahan dalam penatalaksanaan penyakit hipertensi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal.
- Dapat menjelaskan akibat tekanan darah tinggi pada pembuluh darah halus.
- Dapat menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi pecahnya pembuluh darah.
- Dapat menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi. 27 Pebruari 2003 Memeberi penyuluhan tentang akibat pecahnya pembuluh darah karena hipertensi. S :
- Keluarga khususnya klien Bu Sutri mengatakan mengerti maksud dan tujuan kunjungan hari ini.
- Keluarga dapat menjelaskan akibat hipertensi
- Menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi pecahnya pembuluh darah.
- Menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi
O :
- Keluarga Bu Sutri dapat bekerjasama dengan mahasiswa.
- Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi
- Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dapat dilakukan
- Keluarga dapat memberikan responverbal dan non verbal yang baik
- Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

0 komentar:

Poskan Komentar

GT Community © 2008 Template by:
SkinCorner