GT community touring di pegunungan

Selasa

Hubungan BBL dengan Asfiksia Ringan

PROPOSAL
Hubungan BBL dengan Asfiksia Ringan








Disusun oleh :
Nama :
Kelas :
Nim :
Dosen :



PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2010





BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Kesehatan No.29, 2004 bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Menurut Menteri Kesehatan 2007, berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia diantaranya asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Jawa Barat masih tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional yaitu 321,15 per 100.000 kelahiran hidup (BPS, 2003). Penyebab langsung kematian bayi adalah asfiksia, komplikasi pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan infeksi. Penyebab tidak langsung AKB adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri (Retnasih, 2007).

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah pokok yang diuraikan dalam latar belakang di atas, maka dapat di ambil rumusan masalah sebagai berikut : Belum diketahuinya hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Cideres Tahun 2009.
Bertitik tolak dari rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitian adalah “Apakah ada hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di SUD Cideres Majalengka pada tahun 2009?”.

3. Tujuan Penelitian
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Cideres tahun 2009.
B. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui distribusi frekwensi kasus BBLR di RSUD Cideres tahun 2009.
2) Untuk mengetahui distribusi frekwensi kasus asfiksia di RSUD Cideres tahun 2009.
3) Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di RSUD tahun 2009

4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah secara khusus akan meneliti tentang BBLR sebagai variabel bebas dan Asfiksia sebagai variabel terikat di Rumah Sakit Umum Daerah Cideres tahun 2009.

5. Manfaat Penelitian
A. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya.

B. Manfaat Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia sehingga dapat mengantisipasi kejadian asfiksia akibat BBLR.

C. Manfaat Bagi Penulis
Sebagai aplikasi antara ilmu yang didapat di pendidikan dengan kondisi nyata di lapangan. Untuk menambah wawasan, pola pikir, pengalaman dan meningkatkan pengetahuan tentang hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)
1. Definisi
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram (sampai 2.499 gram) (Jumiarni, 1995 : 73). BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram) (Prawirohardjo, 2006 : 376).
WHO (1961) mengganti istilah bayi prematur dengan Berat Badan Bayi Lahir Rendah. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gram pada waktu lahir bayi prematur.
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram) (Prawirohardjo, 2001 : 376).


2. Etiologi
BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor (Jumarni, dkk., 1994 74), yaitu :
a) Faktor ibu, meliputi penyakit yang diderita ibu misalnya, tosemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, nefritis akut, diabetes melitus, dan lain-lain. Usia ibu saat hamil lebih dari 35 tahun, multi gravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat, dan lain-lain. Keadaan sosial ekonomi, golongan sosial ekonomi dan perkawinan yang tidak sah. Sebab lain termasuk karena ibu adalah seorang perokok dan peminum minuman beralkohol atau pengguna narkotika.
b) Faktor janin, meliputi hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom, dan lain-lain.
c) Faktor lingkungan, meliputi tempat tinggal, radiasi dan zat-zat beracun
3. Faktor-Faktor Penyebab BBLR
Menurut Manuaba (1998, : 326), faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya BBLR adalah :
a. Faktor Ibu
1) Gizi saat hamil yang kurang
2) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
3) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
4) Paritas ibu
b. Faktor Kehamilan
1) Hamil Dengan Hidramnion
2) Perdarahan Antepartum
3) Komplikasi Hamil
a) Pre-eklampsia / Eklampsia
b) Ketuban Pecah Dini
c) Hipertensi
c. Faktor Janin
a) Cacat Bawaan (kelainan kongenital)
b) Infeksi Dalam Rahim
c) Hamil Ganda
4. Penanganan BBLR
a. Mempertahankan suhu dengan ketat
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
b. Mencegah infeksi dengan ketat
BBLR sangat rentan akan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.
c. Pengawasan nutrisi / ASI
Refleks menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
d. Penimbangan ketat
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi / nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat (Prawirohardjo, 2006 : 377)


5. Upaya Pencegahan BBLR
Mengingat bahwa perawatan BBLR sebagaimana yang kita ketahui dilaksanakan di negara maju ataupun di beberapa rumah sakit rujukan di Indonesia membutuhkan biaya yang sangat besar. Maka upaya pencegahan pada masa pra hamil dan masa hamil menjadi sangat penting.
Pada masa hamil perawatan antenatal harus mampu mendeteksi dini resiko terjadinya BBLR. Bila resiko ini ada maka penatalaksanaannya yang tepat adalah merujuk kasus ke pusat pelayanan yang memiliki kemampuan diagnostik lebih lengkap guna penelitian laboratorium, sehingga terapi akan ditentukan dengan baik (Arcan, 1995).
Adapun upaya-upaya lain yang dapat dilaksanakan untuk mencegah terjadinya BBLR :
1. Upaya agar melaksanakan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi dan merujuk bila ibu terdapat kelainan.
2. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan BBLR.
3. Tingkatkan penerimaaan keluarga berencana.
4. Anjurkan lebih banyak istirahat, bila kehamilan mendekati aterm, atau istirahat berbaring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari kehamilan normal.
5. Tingkatkan kerjasama dengan dukun beranak yang masih mendapat kepercayaan masyarakat (Arcan, 1995).




B. Asfiksia
1. Definisi
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan teratur setelah melahirkan (Prawirohardjo, 2002 : 709). Asfiksia neonatorum dapat diartikan sebagai kegagalan bernapas pada bayi yang baru lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya (Departemen Kesehatan RI, 1996 : 1).
Asfiksia adalah keadaan dimana fetus atau neonatus mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) dan atau menurunnya perfusi (iskemia) ke berbagai macam organ (Soetomo, 2004 : 1).
Asfiksia adalah keadaan janin dalam rahim yang tertekan, karena terjadinya hipoksia atau kekurangan nutrisi (Manuaba, 1999 : 255).
2. Etiologi
Penyebab terjadinya asfiksia menurut (Manuaba, 1999 : 255 – 256).
A. Faktor Intrauterin
1. Keadaan Ibu
a. Hipotensi (syok) dengan berbagai sebab
b. Penyakit kardiovaskuler dan paru
c. Anemia / malnutrisi
d. Keadaan asidosis / dehidrasi
e. Sindrom supin-hipotensi (posisi tidur)
f. Penyakit diabetes mellitus
2. Uterus
a. Kontraksi uterus yang berlebihan
b. Gangguan sistem pembuluh darah uterus
3. Placenta
a. Gangguan pembuluh darah placenta
b. Perdarahan pada placenta pravia
c. Solusio placenta
d. Gangguan pertumbuhan placenta
4. Tali Pusat
a. Kompresi tali pusat
b. Simpul tali pusat
c. Tali pusat terpuntir pada tempat jelli whartom yang lemah
d. Lilitan tali pusat
e. Prolapsus / tali pusat terkemuka
5. Fetus
a. Infeksi intrauterin
b. Gangguan pertumbuhan intrauterin
c. Perdarahan pada janin
d. Anemia
B. Faktor Umur Kehamilan
a. Persalinan premature
b. Persalinan presipitatus
c. Persalinan lewat waktu
C. Faktor Persalinan
a. Persalinan memanjang / terlantar
b. Persalinan dengan tindakan operatif
c. Persalinan dengan induksi
d. Persalinan dengan anestesi
e. Perdarahan (solusio placenta marginalis
D. Faktor Buatan (Iatrogenik)
a. Sindrom hipotensi – supinasi (posisi tidur)
b. Asfiksia intrauterin pada induksi persalinan
c. Asfiksia intrauterin pada persalinan dengan anestesi
Gangguan menahun dalam kehamilan pada ibu dapat berupa gizi buruk, anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi (Prawirohardjo, 2005 : 709).

3. Klasifikasi
a. Tanpa asfiksia (nilai APGAR 8-10).
b. Asfiksia ringan – sedang (nilai APGAR 4 – 7).
c. Asfiksia berat (nilai APGAR 0 – 3).
4. Penatalaksanaan
Prinsip resusitasi (Prawirohardjo, 2005 : 711)
a. Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap bebasnya jalan napas.
b. Memberikan bantuan pernapasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernapasan buatan.
c. Memperbaiki asidosis yang terjadi.
d. Menjaga agar peredaran darah tetap baik.

Nilai APGAR 7 – 10 (bayi dinyatakan baik)
Pada keadaan ini bayi tidak memerlukan tindakan istimewa. penatalaksanaan terdiri dari :
1. Memberikan lingkungan suhu yang baik pada bayi
2. Pembersihan jalan napas bagian atas dari lendir dan sisa-sisa darah
3. Kalau perlu melakukan rangsangan pada bayi
(Kapita Selekta Kedokteran, 1982 : 540).

Nilai APGAR 4 – 6 (asfiksia ringan – sedang)
Cara penanganannya :
1. Menerima bayi dengan kain hangat
2. Letakkan bayi pada meja resusitasi
3. Bersihkan jalan napas bayi
4. Berikan oksigen 2 liter per menit. Bila berhasil teruskan perawatan selanjutnya
5. Bila belum berhasil rangsang pernapasan dengan menepuk-nepuk telapak kaki, bila tidak berhasil juga pasang penlon masker di pompa 60 x / menit
6. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis, biasanya diberikan terapi natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6 cc, dekstrose 40% sebanyak 4 cc, disuntikkan melalui vena umbilikalis masukkan perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya perdarahan intra kranial karena perubahan pH darah mendadak (EGC, 1995 : 81).

Nilai APGAR 0 – 3 (asfiksia berat) .
Keadaan asfiksia berat ini hampir selalu disertai asidosis yang segera membutuhkan bikarbonas natrikus 7,5 dengan dosis 2 – 4 ml / kg berat badan. Diberikan dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Untuk menghindarkan efek samping obat, pemberian harus diencerkan dengan air steril atau kedua obat diberikan bersama-sama dengan satu semprit melalui pembuluh darah umbilikus.
Bila setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun (kurang dari 100 permenit) maka pemberian obat-obat lain serta massege jantung segera dilakukan. Massege jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan diatas tulang dada secara teratur 80 – 100 per menit. Tindakan ini dilakukan berselingan dengan napas buatan, yaitu setiap 5 kali massege jantung diikuti dengan satu kali pemberian napas buatan. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoraks atau pneumomediastinum apabila tindakan dilakukan secara bersamaan.
Di samping massege jantung ini, obat-obatan yang diberikan antara lain adalah larutan 1 / 10.000 adrenalin dengan dosis 0,5 – 1 cc secara intravena / intrakardial (untuk meningkatkan frekuensi jantung) dan kalsium glukonet 50 – 100 mg / kg berat badan secara perlahan-lahan melalui intravena (sebagai obat inotropik).
Bila tindakan-tindakan tersebut diatas tidak memberikan hasil yang diharapkan, hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam dan basa yang belum diperbaiki secara semestinya, adanya gangguan organik seperti hernia diafragmatika, atresia atau stenosis jalan napas, dan lain-lain.

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN METODE PENELITIAN
1. Kerangka Konsep
Berat badan lahir rendah akan menimbulkan komplikasi medis yang lebih berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas janin yang dilahirkan, hal ini disebabkan oleh kekurangan surfaktan, pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung, perdarahan intraventikuler : 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apneu, afiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan.

2. Visualisasi Kerangka Konsep
Dengan demikian variabel-variabel yang akan penulis teliti digambarkan dalam kerangka konsep sebagai berikut :



Variabel Bebas
(Independen) Variabel Terikat
(Dependen)
Diagram 3.I.I Hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia
3. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu :
a. Variabel Independen
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah BBLR.
b. Variabel Dependen
Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah asfiksia.
4. Definisi Operasional
Tabel 3.4.1 Definisi Operasional
No. Variabel Definisi
Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
1. BBLR Bayi baru lahir di timbang sejak 0-24 jam setelah lahir < 0 =" BBLR" 1 =" Tidak" 1 =" Asfiksia" 0 =" Tidak" p =" x" p =" Proporsi" f =" Jumlah" n =" Jumlah" kebebasan =" 1"> 0,05 maka Ho gagal ditolak, yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara varibel bebas dengan varibel terikat.

Tabel 3.4.2
Tabel Silang (2 x 2)
Asfiksia Tidak Asfiksia
Faktor Risiko ( + ) a b a + b (m1)
Faktor Risiko ( - ) c d c + d (m2)
b + c (n1) b + d (n2) N




DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, 2004. Himpunan Peraturan Perundang-undangan praktek Kebidanan; UU No.29 Tahun 2004 dan UU No.23 Tahun 1993, Tentang Kesehatan, Jakarta : Fokus Media

Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. 2006. Profil Kesehatan Kabupaten Majalengka Tahun 2006. Majalengka : Dinkes Kabupaten Majalengka.

Depkes. 1998. Buku I Perawatan Kesehatan R.I. Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas.

______, 1996. Buku V Kedaruratan Neonatal. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.

Prawirohardjo, Sarwono 2001. Buku Acuan nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatural, Jakarta : EGC.

__________, Sarwono 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatural, Jakarta : EGC.

________, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

__________, Sarwono 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatural, Jakarta : EGC.

Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC.

_______, IBG. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter Umum. Jakarta. EGC.

Setyowati, T.1996. Faktor-faktor yang mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisa Data SDKI 1994). From : http://digilib. Litbang. Depkes.Go.Id (diakes 02 Nopember 2008).

Sukardi, A.A, Usman, SH. Effendi, (eds). 2000. Diktat Kuliah Perinatologi Bandung : bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak, FKUP / RSHS.

Mochtar. R. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi, Jakarta : EGC.

Glover. B dan Hadson. C. 1995. Perawatan Bayi Prematur, Jakarta ; Arcan.

0 komentar:

Poskan Komentar

GT Community © 2008 Template by:
SkinCorner